~ Jaka Tarub ~
Hari ini terasa sangat singkat, suara-suara Rizal tak lagi mengganggu Nasir, bunga itu telah menyita perhatiannya seharian. Pak Eko mengakhiri pelajaran Matematika lebih cepat.
“Ingat, jangan buat keributan, jangan lupa kerjakan tugas yang Bapak berikan, terimakasih atas perhatian…”
“Pak…” tiba-tiba Nasir mengangkat tangannya.
“Iya? Maaf?” Pak Eko mencondongkan kepalanya ke arah Nasir
“Umm… Anu… Pak… Sepertinya Bapak belum mengabsen” sahut Nasir dengan susah payah.
“Saya sedang buru-buru, absen jam ini saya percayakan kepada kalian, OK, selamat siang anak-anak” kata Pak Eko
“Selamat siang, Pak………” sahut mereka serentak, Pak Eko mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Nasir merasa kecewa, dia hanya ingin mendengar nama itu disebut lagi.
Kelas jadi ramai, masing-masing berbicara dengan teman semeja, berbeda dengan Nasir yang hanya di pojok seorang diri. Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang senasip, dia sedang asik menggambar sesuatu. Tentu saja yang paling berisik adalah Rizal, apalagi sekarang dia duduk di depanku, telingaku harus dilindungi perisai sebagai antisipasi, keluh Nasir dalam hati. Mamad memalingkan kepalanya ke belakang. Cesss… Atmosfir buruk itu datang lagi dan tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan kelas. Mamad berdiri dari kursinya, melangkah ke depan, lalu berdiri menghadap siswa lain, hening sejenak, pidato??
“Yang terjadi pagi tadi sangat memalukan, dan gue sangat menyesalinya” Mamad akhirnya bersuara. Semua mata tertuju kepadanya. Nasir mencoba menangkap maksud dan arah pembicaraan Mamad. Memalukan? Menyesali? Otak Nasir berputar cepat, Perkelahian >> Memalukan >> Menyesal, Nasir mengambil kesimpulan, Mamad sadar bahwa perkelahian berakibat buruk pada wajahnya!
“Gue minta maaf sama Nana, gue janji gak kan mengulanginya lagi, gak Nana aja, yang lainnya juga” Mamad melanjutkan lalu terdiam sejenak. Nah? Nana? Yang mana namanya Nana? Nasir bertanya-tanya dalam hati sambil menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap menemukan cewek dengan tulisan ‘Nana’ di jidatnya. Teman-teman Mamad bertepuk tangan, kelas menjadi riuh sejenak.
“Dan terakhir, gue ucapin terimakasih kepada Bara, makasih bro, lu udah ngingetin gue!” Mamad mengakhiri orasinya. Rizal malah naik ke atas kursi sambil menunjukkan jempolnya. “Mantaaaaaaaapp……………! Begitu seharusnya jadi lelaki!” disambut gemuruh dan tepuk tangan dari para pemirsa se-tanah air. Rizal turun dari kursinya, “Itupun setelah dipaksa dan gue kasih naskah untuk dibaca, bruakakakakak” kata Rizal sambil menepuk-nepuk bahu Bara.
Nasir semakin bingung, Perkelahian >> Maaf kepada Nana >> Terimakasih kepada Bara karna sudah mengingatkan?? Ada apa………….?? Nasir mencoba mengambil kesimpulan, Mamad tiba-tiba gila dan merasa bahwa dia adalah macan lalu menerkam Nana yang dikira kambing, lalu akhirnya Bara memukul Mamad dua atau tiga kali supaya Mamad sadar? Ckck… EGP… batin Nasir.
Mamad menghampiri meja di depan Rose, menggaruk kepalanya dan mengucapkan sesuatu kepada seorang cewek yang duduk di situ, yang diajak bicara hanya menunduk dan mengangguk. Lalu Mamad beranjak menuju kursinya. Itu pasti Nana batin Nasir. teman di samping Nana berdiri lalu menarik Nana untuk berdiri, Nana masih tertunduk tapi menurut saja saat digiring oleh teman semejanya, mereka berdua berjalan mendekati meja Bara.
“Kak Bara, makasih banget ya… kakak emang benar-benar bisa diandalkan!” kata temannya Nana berapi-api kemudian mencubit lengan Nana, “Ayo ngomong?!” tapi Nana diam saja dan malah semakin menunduk menatap lantai.
“Wahahahahaha” Bara tertawa, “Itu bukan apa-apa, spontanitas aja sebenarnya, wahaha”
“Cium….. Cium….. Cium…..” tiba-tiba serentak semua murid meneriakkan kata yang sama, tak salah lagi, Rizal provokatornya, anak ini sangat berbakat! Nana langsung berbalik dan berlari menuju mejanya, sekilas terlihat pipinya memerah menahan malu. Teman Nana tertawa lalu berjalan meninggalkan Bara. Anak muda zaman sekarang sangat membingungkan batin Nasir. Teman Nana menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Bara, “Kak Bara, kalo butuh nomer HP Nana tinggal bilang ya kak…” katanya sambil mengedipkan mata.
“Dina……………………….!!” Nana menjerit, mukanya merah padam seperti udang dicat Avian warna merah (mungkin maksudnya seperti udang rebus).
“Wahahahahaha” seperti biasa Bara hanya tertawa. Bel berakhirnya sekolah berbunyi.
“Prospek lu cerah banget, Bar, bruakakakakak” Rizal kembali menepuk pundak Bara, “Eh Bar, lu pulang naik apa? Motor gue masuk bengkel nih” Bara berdiri, “ikut gue aja kalo begitu”.
Nasir merapikan alat tulisnya, enak banget? ke sekolah bawa motor, padahal SIM aja belum punya, Nasir memikirkan itu sambil menghela nafas. Mereka meninggalkan ruang kelas beriringan, menyusuri koridor sekolah, melewati kelas-kelas kosong dan kantor dewan guru. Akhirnya mereka sampai di tempat parkir, tiba-tiba Rizal memutar kepalanya ke belakang, Nasir hanya beberapa langkah di belakangnya, “Eh Zor, lu pulang naik apa? Kayaknya kita ga pernah ketemu sepanjang jalan pulang?” Ck, Zor lagi. “Aku pulangnya dijemput, kalo berangkat naik angkot” sahut Nasir santai namun ada nada pedih dalam kalimatnya. “Oh… kalo begitu kami duluan, hati-hati di jalan ya… bruakakakak” kata Rizal, Bara hanya mengangguk dan tersenyum.
Nasir melanjutkan langkahnya, menyusuri halaman, melewati gerbang sekolah, lalu bertingkah seolah-olah sedang menunggu seseorang atau sesuatu (misalnya helikopter yang tiba-tiba mendarat, mobil patroli yang kebetulan lewat, atau sukur-sukur ada mobil ambulan yang jemput).
BRUUUMMMMMMM……………
“Bruakakakakakakak……!! Dadah…………….” Bara dan Rizal akhirnya berlalu. Tidak ada satupun angkot yang lewat, sekolah mereka berada di kawasan pegunungan alias jauh dari kota. Angkot hanya lewat pada pagi hari, kalaupun ada angkot jam segini berarti angkot carteran beberapa siswa yang menjadi langganan antar-jemput. Jarak dari sekolah Nasir ke terminal terdekat sekitar dua kilometer, dan jarak dari sekolah ke rumah Nasir kira-kira enam kilometer. Nasir sudah terbiasa jalan kaki, bahkan jika tidak terbiasa pun maka sejak memutuskan masuk SMA Negeri 13 Kotabaru maka dia harus membiasakan diri, untuk menghemat ongkos, setiap rupiah sangat berarti baginya. Jalan raya sepi, sesekali sepeda motor dan truk melintasi jalan, benak Nasir melayang, Rose. Ck, Nasir menggelengkan kepala, mimpi di siang bolong. Nasir merogoh saku celananya, sebenarnya masih ada seribu rupiah, tapi kalo aku berjalan empat kilometer lagi berarti aku bisa menabung hari ini, desah Nasir lalu tersenyum.
Matahari bersinar sangat terik, keringat mengucur di kening dan lehernya, haus. Tiba-tiba dia teringat adiknya di rumah, Nasir menyinggahi sebuah warung untuk membelikan sesuatu, rumahnya hanya sekitar dua kilometer lagi. “Permisi…..” Nasir memanggil penjaga warung, tapi tidak ada orang. Nasir menengok ke sebelah warung, ada bengkel, “Permisi……. yang punya warung mana ya?” tanya Nasir kepada seseorang yang hanya memakai singlet dan celana SMA, orang yang ditanya berbalik. Bara!!
“Nasir???” Astaga! Nasir terkesiap, ingin rasanya menghilang atau bersembunyi tapi sudah terlambat. Apa yang harus aku katakan?? Keluh Nasir dalam hati.
to be Continue
by verGO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar