Senin, 31 Desember 2012

Chapter #1 Part VII



~ Takut ~

Pagi yang cerah. Nasir berjalan melalui koridor sekolah, wajahnya masih seperti biasa, tanpa ekspresi. Pikirannya melayang akan kejadian kemarin siang, Bara bersikeras mengantarnya pulang ke rumah, Nasir hanya bisa pasrah, bahkan Bara tidak banyak bertanya apa dan kenapa. Nasir melintasi pintu kelas, dilihatnya sebagian kursi masih kosong, diliriknya jam dinding, 06.47. Bara sudah ada di kursinya, sedang asik membaca sesuatu.
Pagi Bar” kata Nasir sambil tersenyum, selama tiga bulan ini Bara adalah manusia pertama yang disapanya (biasanya Nasir menyapa tumbuh-tumbuhan, jangkrik, capung, dan beberapa hewan melata).
Yo yo” sahut Bara tetap konsen dengan bacaannya.

Nasir meletakkan tasnya di meja lalu duduk di kursi. Nasir melirik ke samping kanan, hanya meja-meja dan kursi-kursi kosong, bahkan sampai ke ujung, dia seorang diri di deretan paling belakang. Nasir mengalihkan pandangan ke meja favoritnya, kosong. Beberapa menit kemudian Mita memasuki kelas, aha, pekik Nasir dalam hati, namun orang yang diharapkannya tidak juga muncul. Nasir mengeluh sejenak, mana Rose? Mungkin teman duduknya mengetahuinya batin Nasir, tapi itu tidak mungkin aku tanyakan, memalukan, lagipula aku tidak tahu nama teman Rose tersebut, pikir Nasir kemudian. Rizal memasuki kelas, wajahnya cerah seperti biasa.
Bar, permisi Bar numpang lewat, badan lu tambah hari tambah bengkak aja, kebanyakan minum oli bekas sih!” // “Daripada kayak elu, cacingan!” // “Jiah, jangan pandang kurusnya donk! Yang penting gemuk otaknya!” // “Tapi masih gemuk otak gue” // “Ea… gemuk tapi ga ada isinya, BRUAKAKAKAK, eh, hari ini pengumuman kelas peminatan akademik kan? Lu milih apa? Katanya masih bisa pindah loh, mending ikut gue aja di kelas Bahasa, Bar!” // “Gak menantang, makanya otak lu cacingan, coba gue nih, mendaftar di kelas Matematika dan Sains, hahaha” // “Itu juga kalo lulus, eh Zor? Lu masuk mana?

Ck… sepertinya bakal dipanggil Zorro seumur hidup.
Sosial” sahut Nasir pendek. “Huwaaa…… membosankan…… ikut gue aja Zor, di kelas Bahasa, ayolah, gue bakal kesepian tanpa elu” sahut Rizal. Nasir hanya diam.

SMA Negeri 13 Kotabaru tahun ini menjadi bahan uji publik kurikulum baru sebagai sekolah percontohan, sistem ini hanya berlaku pada kelas X, tidak ada pemilihan jurusan IPA, IPS, Bahasa, namun diganti menjadi mata pelajaran wajib, mata pelajaran pilihan (peminatan akademik), dan mata pelajaran pilihan bebas (sesuai minat dan bakat). Agak mirip dengan perkuliahan, karena masing-masing kelas menuntut sejumlah jam pelajaran yang harus diambil, mirip-mirip SKS. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian kelas peminatan akademik, ada tiga kriteria hasil ujian, lulus, pertimbangan, dan tidak lulus. Yang lulus dipastikan akan mengikuti kelas yang dipilih setiap hari Kamis dan Sabtu, yang masuk dalam pertimbangan, boleh mengulang atau tetap bertahan, dan yang tidak lulus tentu saja harus mengulang atau menyerahkan keputusan kepada guru. Walaupun namanya kelas pilihan, tetap saja diadakan ujian, hal ini karena keterbatasan ruangan, dikhawatirkan jumlah peminat tidak seimbang, mungkin saja salah satu kelas hanya berisi beberapa siswa sedangkan kelas yang lain kelebihan muatan.

Bel masuk berbunyi. Rose tetap tidak muncul, Pak Eko memasuki ruangan, mengucapkan salam, dan memulai khotbah. Nasir merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, entah apa, dia tidak bersemangat pagi ini, tatapan hanya tertuju ke suatu tempat, tempat yang seharusnya diisi Rose. Dua jam berlalu begitu saja, Pak Eko mulai mengabsen.
Hadir, Pak….” Sahut Nasir lesu.
Rose……,” Pak Eko berhenti sejenak, lalu seperti teringat sesuatu “Oh iya……selanjutnya Rusdi…..
Hadir, Pak!” sahut Rusdi.
Tidak ada penjelasan tentang Rose? Nasir jadi bertanya-tanya.
Pengumuman hasil ujian kelas peminatan akademik sudah dipasang di Mading depan kantor, yang ingin mengulang diharapkan datang lusa, Minggu pukul 9 pagi ke sekolah, atau dinyatakan menyerahkan keputusan pilihan kepada guru. Sekian. Selamat Pagi anak-anak” kata Pak Eko.
Selamat pagi, Pak……….” Sahut siswa serempak.

Bel istirahat belum berbunyi, Pak Eko sepertinya suka mengkorupsi waktu, kadang-kadang setengah jam lebih cepat. Siswa-siswi mulai membicarakan tentang kelas pilihan mereka, suara mereka mendengung seperti sekumpulan lebah. Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Ayo Bar!” tiba-tiba Rizal bersuara lalu menoleh ke Nasir, “Zor, barengan yuk lihat hasilnya!
Sebagian besar murid kelas X menyerbu papan pengumuman, Nasir berjalan dengan enggan di belakang Bara dan Rizal, Rizal hanya setinggi telinga Bara, jika mereka bertiga berjalan beriringan denagn urutan Bara>Rizal>Nasir, maka akan tampak seperti tangga menurun. Beberapa siswa mengeluh, sebagian yang lain menunjukkan wajah girang, puluhan siswi hanya bisa menunggu di barisan belakang karena tidak mau ikut berdesakan. Bara maju bagaikan Bulldozer menyeruak di antara kerumunan, menyusul Rizal di belakang, sepertinya itu memang ide Rizal.
Bruakakakakak, gue lulus Bar, lu sama Zorro masuk pertimbangan, sudahlah, Minggu pagi ikut ujian kelas Bahasa aja, dijamin lulus!” seru Rizal. Kelas Bahasa sedikit peminat. Nasir teringat sesuatu, “Eh tunggu disitu Bar!” katanya kemudian menyeruak menghampiri Bara. nasir mencari sebuah nama. Rose Lulus.

Kelas wajib adalah kelas yang mereka tempati sekarang, mulai Oktober kelas wajib berlaku pada Senin sampai Rabu, hari ini yaitu Jum’at selanjutnya akan jadi kelas pilihan bebas, dan akan terus begitu selama tiga tahun. Nasir merenung sesampainya di kelas. Rizal dan Bara mungkin sedang bersemedi di semak-semak, merokok. Rose masuk kelas Sains, jika aku memilih kelas lain berarti aku tidak akan melihatnya selama dua hari dalam seminggu, kalau dalam setahun ada 40 minggu efektif berarti… (perhitungan ini terjadi dalam otak Nasir >> 2 hari x 40 minggu x 3 tahun = 240 hari). 
Tidak………….!” Nasir menjerit, Wulan yang sedang menggambar di sampingnya menoleh keheranan, akhir-akhir ini Nasir sering bertingkah aneh dan mendadak. Nasir mengerang membayangkan 240 hari tanpa Rose, belum lagi jika ditambah dengan kelas pilihan bebas. Aku harus mengambil keputusan, seru Nasir dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact

https://www.facebook.com/tuhuk.maarit

Flickr Photostream

Our Office

Wherever is somewhere at anywhere but not in everywhere

— Links

Popular Posts

Followers

Search