~ Takut ~
Pagi yang cerah. Nasir berjalan melalui
koridor sekolah, wajahnya masih seperti biasa, tanpa ekspresi. Pikirannya
melayang akan kejadian kemarin siang, Bara bersikeras mengantarnya pulang ke
rumah, Nasir hanya bisa pasrah, bahkan Bara tidak banyak bertanya apa dan
kenapa. Nasir melintasi pintu kelas, dilihatnya sebagian kursi masih kosong,
diliriknya jam dinding, 06.47. Bara sudah ada di kursinya, sedang asik membaca
sesuatu.
“Pagi
Bar” kata Nasir sambil tersenyum, selama tiga bulan ini Bara adalah manusia
pertama yang disapanya (biasanya Nasir menyapa tumbuh-tumbuhan, jangkrik,
capung, dan beberapa hewan melata).
“Yo yo”
sahut Bara tetap konsen dengan bacaannya.
Nasir meletakkan tasnya di meja lalu duduk
di kursi. Nasir melirik ke samping kanan, hanya meja-meja dan kursi-kursi
kosong, bahkan sampai ke ujung, dia seorang diri di deretan paling belakang.
Nasir mengalihkan pandangan ke meja favoritnya, kosong. Beberapa menit kemudian
Mita memasuki kelas, aha, pekik Nasir dalam hati, namun orang yang
diharapkannya tidak juga muncul. Nasir mengeluh sejenak, mana Rose? Mungkin
teman duduknya mengetahuinya batin Nasir, tapi itu tidak mungkin aku tanyakan,
memalukan, lagipula aku tidak tahu nama teman Rose tersebut, pikir Nasir kemudian.
Rizal memasuki kelas, wajahnya cerah seperti biasa.
“Bar,
permisi Bar numpang lewat, badan lu tambah hari tambah bengkak aja, kebanyakan
minum oli bekas sih!” // “Daripada
kayak elu, cacingan!” // “Jiah,
jangan pandang kurusnya donk! Yang penting gemuk otaknya!” // “Tapi masih gemuk otak gue” // “Ea… gemuk tapi ga ada isinya, BRUAKAKAKAK,
eh, hari ini pengumuman kelas peminatan
akademik kan? Lu milih apa? Katanya masih bisa pindah loh, mending ikut gue aja
di kelas Bahasa, Bar!” // “Gak
menantang, makanya otak lu cacingan, coba gue nih, mendaftar di kelas
Matematika dan Sains, hahaha” // “Itu
juga kalo lulus, eh Zor? Lu masuk mana?”
Ck… sepertinya bakal dipanggil Zorro seumur
hidup.
“Sosial”
sahut Nasir pendek. “Huwaaa……
membosankan…… ikut gue aja Zor, di kelas Bahasa, ayolah, gue bakal kesepian
tanpa elu” sahut Rizal. Nasir hanya diam.
SMA Negeri 13 Kotabaru tahun ini menjadi
bahan uji publik kurikulum baru sebagai sekolah percontohan, sistem ini hanya
berlaku pada kelas X, tidak ada pemilihan jurusan IPA, IPS, Bahasa, namun
diganti menjadi mata pelajaran wajib, mata pelajaran pilihan (peminatan
akademik), dan mata pelajaran pilihan bebas (sesuai minat dan bakat). Agak
mirip dengan perkuliahan, karena masing-masing kelas menuntut sejumlah jam
pelajaran yang harus diambil, mirip-mirip SKS. Hari ini adalah pengumuman hasil
ujian kelas peminatan akademik, ada tiga kriteria hasil ujian, lulus,
pertimbangan, dan tidak lulus. Yang lulus dipastikan akan mengikuti kelas yang
dipilih setiap hari Kamis dan Sabtu, yang masuk dalam pertimbangan, boleh
mengulang atau tetap bertahan, dan yang tidak lulus tentu saja harus mengulang
atau menyerahkan keputusan kepada guru. Walaupun namanya kelas pilihan, tetap
saja diadakan ujian, hal ini karena keterbatasan ruangan, dikhawatirkan jumlah
peminat tidak seimbang, mungkin saja salah satu kelas hanya berisi beberapa
siswa sedangkan kelas yang lain kelebihan muatan.
Bel masuk berbunyi. Rose tetap tidak muncul,
Pak Eko memasuki ruangan, mengucapkan salam, dan memulai khotbah. Nasir
merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, entah apa, dia tidak
bersemangat pagi ini, tatapan hanya tertuju ke suatu tempat, tempat yang
seharusnya diisi Rose. Dua jam berlalu begitu saja, Pak Eko mulai mengabsen.
“Hadir,
Pak….” Sahut Nasir lesu.
“Rose……,”
Pak Eko berhenti sejenak, lalu seperti teringat sesuatu “Oh iya……selanjutnya Rusdi….. ”
“Hadir,
Pak!” sahut Rusdi.
Tidak ada penjelasan tentang Rose? Nasir
jadi bertanya-tanya.
“Pengumuman
hasil ujian kelas peminatan akademik sudah dipasang di Mading depan kantor,
yang ingin mengulang diharapkan datang lusa, Minggu pukul 9 pagi ke sekolah,
atau dinyatakan menyerahkan keputusan pilihan kepada guru. Sekian. Selamat Pagi
anak-anak” kata Pak Eko.
“Selamat
pagi, Pak……….” Sahut siswa serempak.
Bel istirahat belum berbunyi, Pak Eko
sepertinya suka mengkorupsi waktu, kadang-kadang setengah jam lebih cepat.
Siswa-siswi mulai membicarakan tentang kelas pilihan mereka, suara mereka
mendengung seperti sekumpulan lebah. Bel istirahat akhirnya berbunyi.
“Ayo
Bar!” tiba-tiba Rizal bersuara lalu menoleh ke Nasir, “Zor, barengan yuk lihat hasilnya!”
Sebagian besar murid kelas X menyerbu papan
pengumuman, Nasir berjalan dengan enggan di belakang Bara dan Rizal, Rizal
hanya setinggi telinga Bara, jika mereka bertiga berjalan beriringan denagn
urutan Bara>Rizal>Nasir, maka akan tampak seperti tangga menurun.
Beberapa siswa mengeluh, sebagian yang lain menunjukkan wajah girang, puluhan
siswi hanya bisa menunggu di barisan belakang karena tidak mau ikut berdesakan.
Bara maju bagaikan Bulldozer menyeruak
di antara kerumunan, menyusul Rizal di belakang, sepertinya itu memang ide
Rizal.
“Bruakakakakak,
gue lulus Bar, lu sama Zorro masuk pertimbangan, sudahlah, Minggu pagi ikut
ujian kelas Bahasa aja, dijamin lulus!” seru Rizal. Kelas Bahasa sedikit
peminat. Nasir teringat sesuatu, “Eh
tunggu disitu Bar!” katanya kemudian menyeruak menghampiri Bara. nasir
mencari sebuah nama. Rose Lulus.
Kelas wajib adalah kelas yang mereka tempati
sekarang, mulai Oktober kelas wajib berlaku pada Senin sampai Rabu, hari ini
yaitu Jum’at selanjutnya akan jadi kelas pilihan bebas, dan akan terus begitu
selama tiga tahun. Nasir merenung sesampainya di kelas. Rizal dan Bara mungkin
sedang bersemedi di semak-semak, merokok. Rose masuk kelas Sains, jika aku
memilih kelas lain berarti aku tidak akan melihatnya selama dua hari dalam
seminggu, kalau dalam setahun ada 40 minggu efektif berarti… (perhitungan ini
terjadi dalam otak Nasir >> 2 hari x 40 minggu x 3 tahun = 240 hari).
“Tidak………….!” Nasir menjerit, Wulan yang
sedang menggambar di sampingnya menoleh keheranan, akhir-akhir ini Nasir sering
bertingkah aneh dan mendadak. Nasir mengerang membayangkan 240 hari tanpa Rose,
belum lagi jika ditambah dengan kelas pilihan bebas. Aku harus mengambil
keputusan, seru Nasir dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar