~ Mawar ~
Di akhir pelajaran Pak Eko mulai mengabsen, biasanya Nasir hanya memperhatikan namanya saja, tapi kini dia penasaran dengan nama seseorang, lalu memutuskan untuk memperhatikan absensi dari awal. Hingga namanya dipanggil nama orang yang dia inginkan belum juga disebut.
“Nasir…….?” Namanya dipanggil untuk kedua kalinya.
“Ha…hadir pak!” sahutnya terkejut, dia terlalu berkonsentrasi menatap punggung seseorang.
“Rose……”
Seorang cewek mengangkat tangan kanannya sebentar tanpa berkata apa-apa, Pak Eko menatap cewek itu dari balik kacamatanya sejenak lalu melanjutkan absensi. “Yes!” seru Nasir dalam hati, tak disangka ternyata namanya di absensi berada tepat sebelum cewek tersebut. Oh, jadi Rose ya? Nama apaan tuh? Kenapa pendek banget? Keluhnya dalam hati, paling tidak dia mengetahui namanya. Nasir menghirup nafas lega kemudian menghembuskannya.
Bel istirahat berbunyi, setelah mengucapkan salam Pak Eko bergegas meninggalkan ruangan. Mamad tiba-tiba berdiri, dan Bara juga seperti diberi aba-aba ikut berdiri. Nasir yang terkaget-kaget juga ikutan berdiri, tapi duduk lagi sambil memukul kepalanya. Goblok! Kayak pertunjukan dancer aja, Nasir menyumpah dalam hati. Tapi tidak ada sesuatu yang terjadi, Mamad dan teman-temannya meninggalkan ruangan kelas. Bara sepertinya kebingungan, lalu kembali duduk, tapi kemudian berdiri lagi meninggalkan meja, Rizal telah menunggunya di depan pintu. Saat-saat istirahat seperti ini biasanya hanya beberapa orang yang tinggal dalam kelas, dan yang tidak pernah absen adalah Nasir, sendirian di pojok ruangan.
“Bruakakakak, hey Zorro, ngapain bengong aja setiap hari? Ayo gabung!” Rizal memanggilnya, namun Nasir hanya tersenyum pahit, menelan ludahnya, lalu kembali tersenyum. Nasir bingung apa yang harus dilakukan, mungkin ajakan itu adalah basa-basi, tapi sekarang adalah saatnya untuk bergaul, pikirnya dalam hati.
“Ayo!” Rizal kali ini tampak sungguh-sungguh.
“Umm… Mungkin lain kali, ada yang mau aku kerjakan dulu” sahut Nasir tiba-tiba sambil tersenyum, kali ini senyumnya sedikit manis. Rizal hanya mengangguk, Bara hanya menoleh sebentar lalu mereka berjalan meninggalkan kelas.
Astaga……! Apa yang aku lakukan?? Keluh Nasir dalam hati, lidah dan otaknya tidak bekerja sama. Akhirnya seperti biasa, sendirian dalam kelas, Nasir mengeluarkan buku catatan, mungkin lebih baik aku mengulang pelajaran selanjutnya dulu katanya dalam hati. Sunyi. Beberapa siswa keluar masuk ruangan, sayup-sayup terdengar percakapan, namun Nasir tenggelam dalam kesunyian. Nasir mengangkat dagunya, teringat seseorang, Rose, namun meja Rose masih kosong, dia belum datang. Nasir menghela nafas, memelototi tulisan di depannya, lalu terdengar bunyi goretan, ah suara ini tak asing pikirnya, kemudian meneruskan membaca. Tiba-tiba Nasir tersentak! Sudah tiga bulan dia mendengar suara itu setiap kali istirahat! Goretan itu! Nasir memalingkan wajahnya ke samping kanannya. GEDEBRAKKK!!
Nasir terjatuh dari kursinya, kaget bukan kepalang, ternyata selama ini ada seorang makhluk yang menemaninya dalam kelas, dan dia tidak menyadarinya! Mulut Nasir ternganga, untunglah yang dia lihat hanya manusia biasa, dan lebih untung lagi tidak ada seekor seranggapun yang sedang lewat lalu masuk ke mulutnya. Seorang cewek dengan rambut dikepang dua sedang duduk menggambar sesuatu tepat di samping mejanya. Cewek itu memalingkan wajahnya lalu tertegun, “kamu tidak apa-apa?” tanya cewek itu dengan nada terkejut. “Aa…aa…i……iya……” Nasir tergagap, lalu membetulkan letak kursinya. Nasir mengelus dadanya, seperti baru melihat hantu di siang bolong.
Hening sejenak.
“Bruakakakakakakak!!” suara tawa Rizal terdengar di kejauhan, tak lama Bara masuk menyusul Rizal di belakang, muka keduanya berseri-seri, habis dapat lotre??
“Wah, nyesel lu Zor, tadi ga ikut, seru deh pokoknya” kata Rizal mendekat. Zor?
“Hahahaha” sekarang giliran Bara yang tertawa.
“Eh Bar, gue putuskan sejak hari ini gue mesti pindah duduk!” // “Oh ya? Pindah kemana? Ke akhirat?” // “Asem lu Bar, ya kesini lah……! Di samping elu, bruakakakakak”
Menjijikkan! Seperti percakapan sepasang homo, ketus Nasir dalam hati, lalu perutnya terasa mual. Bara menjatuhkan pantatnya di kursi, aroma rokok yang khas mengiringi tubuhnya saat dia merebahkan punggungnya di kursi. Benar, setiap hari selalu bau itu yang aku cium, bisik Nasir.
“Hahahaha, apalagi yang lu tunggu? Ambil tas elu!” sahut Bara kemudian. Rizal bergegas mengambil tasnya, melompati beberapa meja dan tiba-tiba sudah duduk di samping Bara.
“Hallooo tetangga… bruakakakakakak… Zorro beneran sariawan kayaknya Bar, liat aja dari tadi cuma bengong mulu, mungkin mikirin kudanya yang hilang, bruakakakak!” Rizal tertawa terpingkal-pingkal, menyusul Bara. Nasir mengepalkan tinjunya di bawah meja, ada asap yang mengepul dari kepalanya. Yah… selama itu tidak menyakiti bagian tubuhku dengus Nasir dalam hati kemudian meregangkan kepalan tangannya.
“Eh Zor, tumben kelimis hari ini? kumisnya dikemanain? Zorro ga pake kumis ga macho loh, bruakakakakakkak” Rizal mulai lagi.
Nah… aku tak tahan lagi…! Bagian tubuhku benar-benar tersakiti! Telingaku! Teriak Nasir dalam hati, seperti ada binatang buas yang meronta-ronta di dadanya ingin keluar! Mata Nasir memerah, terbakar amarah, binatang buas itu hampir lepas. Ia lalu berdiri, bel berbunyi, siswa-siswi berhamburan masuk. Rose! Dan teman semejanya memasuki kelas, Nasir terpana sebentar menatap wajahnya, sekarang ada keringat yang mengalir di pipi Rose, dan Rose sedang tersenyum riang, semua beban di hatinya tiba-tiba sirna, kamu begitu cantik, dan kecantikanmu menyejukkan hati ini, bisik Nasir. Mamad Cs memasuki kelas, memar di wajahnya terlihat jelas, bekas tadi pagi, rupanya dia dan Bara berkelahi (Emangnya ngapain? Main pedang-pedangan??). Dan buah tangan Bara membekas di wajahnya, ck, salah memilih lawan, Bara adalah sosok monster batin Nasir, dia dapat merasakan hawa itu sejak pertama melihatnya. Dan tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi Mamad yang kedua pagi ini andai saja Rose tidak masuk di saat yang tepat, ah… Rose, senyummu menyelamatkan aku hari ini, bisik Nasir. Suasana tiba-tiba menegang, sepertinya Rizal dan Bara menahan nafas, Mamad hanya duduk, dan begitu saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ada apa sebenarnya?
to be Continue to part VI
by verGO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar