Kamis, 27 Desember 2012

Chapter #1 Part IV

~Batman~

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, koridor sekolah mulai kosong, hanya beberapa siswa yang terlihat masih duduk-duduk di depan kelas, sepertinya mereka menganggap kelas seperti sangkar. Terlebih bagi seorang pemuda berambut cepak yang kelihatannya terlambat pagi ini, Nasir. Ia berlari melintasi koridor sekolah, tas di punggungnya yang kokoh berayun mengikuti irama tubuhnya. Papan nama Kelas I-B kini sudah terlihat, sepertinya masih ada beberapa siswa yang berdiri di pintu masuk, berarti Pak Eko, wali kelas mereka belum datang. Nasir mengurangi kecepatan larinya, keringat bercucuran di pelipisnya, padahal pagi ini masih dingin. Nasir berhenti sejenak beberapa meter dari pintu, teringat kejadian kemarin, membuatnya enggan masuk kelas.

Kyaaaaaaaaaaa……………….!” Terdengat jeritan gadis-gadis menyusul tawa beberapa anak laki-laki, tiba-tiba kelas menjadi gaduh menyusul suara meja dan kursi yang berbenturan keras. Beberapa siswa keluar kelas, Nasir buru-buru menghampiri ingin tahu apa yang sedang terjadi, beberapa siswa di kelas I-A melongokkan kepala dari jendela. Nasir sudah sampai di depan pintu dan sekarang di depannya beberapa meja dan kursi berhamburan, Mamad sedang terkapar di lantai, tangan kiri Bara merenggut kerah baju Mamad, tangan kanannya terkepal dan sepertinya ingin memukul.

Sebelum pukulan itu melayang, seorang siswa tiba-tiba naik ke atas meja, “Nah, Batman! Gue rasa itu tadi udah cukup, kasian hidungnya entar ngocor kalo ditambah lagi” lalu siswa berbadan ceking itu melompat turun, menghampiri Bara dan menepuk pundaknya, seakan pawang singa yang sedang beraksi. Ajaibnya Sang Singa ternyata menurut, beberapa siswa bertepuk tangan, Rizal yang tak lain si pawang Bara tersenyum lebar sambil mengangkat kedua belah tangannya seperti mengakhiri sebuah pertunjukan. Apa-apan ini? Crow’s Zero? Atau Sirkus? Nasir menggelengkan kepala.

Beberapa siswa merapikan meja, Mamad hanya terdiam, merapikan seragamnya, lalu menepuk-nepuk celananya yang kotor. Beberapa temannya mendatanginya dan berbisik-bisik. Sang Singa menghela nafasnya, lalu duduk setelah didorong-dorong Rizal dengan paksa. Nasir memasuki kelas, melewati Mamad yang nampak berantakan terutama wajahnya, kalau dipikir-pikir wajahnya memang berantakan dari dulu, dan sekarang sudah seperti adonan dalam blender, Nasir menyusuri meja demi meja, baru sampai di depan meja Bara, Rizal menoleh sebentar lalu senyumnya mengembang, “Bruakakakak… Zorronya telat! Sayang sekali, ga sempet nonton Jaka Tarub melawan Batman!” jadi gue mesti bilang WOW gitu? Seru Nasir dalam hati, sok kenal banget nih anak, pantas aja dia dan Bara jadi akrab. Nasir melewati Rizal dan Bara tanpa ekspresi dan tanpa sepatah kata lalu duduk seakan tidak ada sesuatu apapun yang terjadi.

Ckck, teman-teman, Zorro lagi sariawan, jangan diganggu dulu ya, nanti kumisnya bisa berubah berubah jadi pedang, bruakakakakak!” seru Rizal sambil berlari menuju mejanya, “Ngomong-ngomong Pak Eko udah datang tuh!” Azzzzzz… Lagi-lagi aku jadi bahan ejekan, tapi biarlah selama itu tidak menyakiti bagian tubuhku gumam Nasir dalam hati.

Selamat pagi, anak-anak
Pagi, Pak………..
Nah, sebelum mulai, mari kita berdo’a bersama sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dalam hati, berdo’a dimulai!”

Hening.

Otak Nasir berputar cepat, mencerna apa yang telah terjadi pagi tadi, adegan demi adegan, Mamad tersungkur di lantai dan kerah bajunya dalam genggaman Bara. Nasir kembali memutar otak dan ingatannya. Pagi itu ada jeritan, lalu kursi berserakan. Nasir menggelengkan kepala, ah, bukan urusanku serunya dalam hati. Seperti biasa Pak Eko adalah guru yang membosankan, ceramah sepanjang waktu, kadang-kadang cuma membacakan teks di buku, lain waktu menyuruh siswa-siswi mencatat atau menyalin sesuatu. Lalu apa bedanya dengan membaca di rumah atau perpustakaan? Paling tidak Pak Eko harus mengadakan sesi tanya jawab, keluh Nasir dalam hati.

Sambil bengong Nasir melayangkan pandangan ke seisi ruangan, di deretan depan adalah wajah-wajah yang sepertinya tidak asing dengan buku, mereka sangat antusias mendengarkan khotbah Pak Eko, seperti bunga kering yang sangat mengharapkan siraman air ilmu pengetahuan. Ada Aceng dengan kacamata tebalnya, Eka cewek berjilbab yang duduk satu meja dengan Heni, dia mengenal ketiganya saat Opspek. Selebihnya dia tak tahu. Kemudian deretan selanjutnya di meja ketiga dari kiri ada Mamad and the gang, Nasir kembali bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi, kemudian bersikukuh bahwa itu tidak penting untuk diketahui. Hanya Mamad, itupun saat Opspek, selebihnya dia tidak kenal. Deretan selanjutnya adalah deretan… Nah! Bahkan dia tidak familiar sama sekali dengan wajah-wajah mereka, bahkan jika tidak ada papan nama kelas mungkin dia ragu sekarang ada di kelas mana!

Deretan keempat adalah meja yang kini dihuni Bara, tepat berada di depannya. Dia duduk sendirian, kursi di sebelah kirinya kosong. Di samping kanan mejanya Bara ada dua cowok, Nasir menggaruk kepalanya lagi, siapa mereka? Alien? Lalu di sebelah kanannya lagi ada dua orang cewek. Jiah, itu dia, monster yang kemarin menyambarkan kilat saat menatap matanya, tapi dia cantik, dan teman di sebelahnya juga lumayan. Entah kenapa si monster memalingkan wajahnya ke belakang! Astaga! Jangan-jangan dia merasa diperhatikan? Nasir buru-buru mengalihkan pandangannya, ya ampun, aku tidak mau mati muda! serunya dalam hati, jantungnya berdegup kencang.

Kini pandangannya beralih ke deretannya sendiri. Gedubrak! Ternyata ada satu orang cewek duduk sendirian di sampingnya! Hah? Apa-apaan ini? Bahkan adanya tetangga di sebelah meja tidak pernah aku perdulikan! Seru Nasir lagi. Selanjutnya meja kosong tanpa penghuni, lalu meja yang terakhir, Pawang Singa! Dan Sang Pawang sedang nyegir menatapnya! Nasir akhirnya memandang langit-langit kelas, sudah tiga bulan berlalu, dan dia menyadari bahwa belum ada satu pun dari seisi kelas yang benar-benar berinteraksi dengan dia. Nasir menggaruk kepalanya, apakah dia benar-benar tertutup? Kurang bergaul? Minder? Kalau dari segi ketampanan sepertinya aku tidak kalah dengan yang lain, sebuah kepercayaan diri tinggi. Nasir mulai mengkoreksi diri, akhirnya dia menemukan sesuatu, dia sangat sederhana, tidak stylish, bahkan seragam dan celana yang dipakainya lusuh, sepatunya butut, tasnya belel. Begitu juga dalam mata pelajaran, dia tidak pernah menonjol. Nasir menangis dalam hati, lalu mengambil kesimpulan dengan cepat, aku tidak keren, aku anak miskin, dan yang terakhir korban insiden ‘kumis’, airmatanya jatuh.

to be Continue to Chapter #1 Part V
by verGO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact

https://www.facebook.com/tuhuk.maarit

Flickr Photostream

Our Office

Wherever is somewhere at anywhere but not in everywhere

— Links

Popular Posts

Followers

Search