Part V
Kebahagiaan
yang kurasakan di sekolah, obrolan game,
candaan hangat, kini semua bakal terkubur oleh seorang nenek sihir yang masuk
dalam kelasku, semula dunia yang penuh fantasy
dan warna, kini menjadi hitam putih, seakan tersesat dan tak bisa bangkit lagi,
aku tenggelam dalam lautan luka, kayak anak TK yang nggak tau arah jalan pulang…
aku tanpamu aku enggak tau… koplak! pikiran makin kacau, seharusnya lagu merdu
malah jadi lagu yang bikin pusing, tatapan tajamnya dalam kelas seolah akulah
budaknya, akulah Sariminnya, ambilin ini!
ambilin itu! Seandainya gue bukan laki-laki pasti gue nangis deh, nasib kaya
gene.
Treeet treet……
bel istirahat berbunyi, “Ayi, sini!” Kata nenek peot, “antarkan aku
ke kantin, dah lapar neh, mana panas lagi!” dengan sikap tegap kaya ABRI
langsung aja aku ngasih jalan, maklumlah dari pada malu dilihat satu sekolah
ntar, jaim dikit biar kena pukul nggak papa hehehe, “apan lo di depan duluan
kaya loe aja majikannya? sini tangan loe!” haa…? Ngapain? buat apa?
ternyata suatu yang tak terduga terjadi dia langsung menggandeng aku
menuju kantin, dan semua siswa cowok tuh pada lihatin nih anak baru, aku yang
selama ini nggak pernah diperhatikan orang seakan-akan langsung jadi artis
bajakan, mana aku tau kalau kaya gini ceritanya, pasti aku cuman menutup muka
aja sambil jalan, tapi dia tiba-tiba berhenti, “apaan pakai
sembunyi-sembunyi lo? habis masuk SERGAP apa? pakai malu segala…!!” / “ah nggak”
kubilang, “cumannnn……” hemmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm hening.
Dan di kantin
asli jadi perhatian para cowok-cowok, kok bisa-bisanya aku makan sama seorang
cewek cantik, tapi mereka nggak tahu gimana kelakuannya nih nenek sihir, “kenapa
nggak makan?” / “dah kenyang” (dalam hati mana bisa makan kalo diliatin orang
segitu banyaknya). tiba-tiba aja to Risa berdiri dan langsung nabok meja, “apa
lo liat-liat?!!” katanya sembari melihat muka cowok-cowok yang dari tadi
memplototin, “nggak pernah liat orang makan apa?” katanya. Aduh, ne cewek mang
penyihir kan seperti yang aku bilang, mati aku, terus dia liat aku lagi, “apa?
lanjutin makan!” katanya,, hahhhhhhhhhhhhhhhhhh,, begini nasibku, seakan akan
aku hanya jadi seorang supir yang disuruh majikanya, supir juga enak
digajih, dan nggak ditabok, ne aku ditabok mulu, mana menghancurkan seluruh
aktifitas dan rencana hidupku lagi hiks, tapi sukurlah bel sekolah dah bunyi
untuk pulang, sekolah yang dulunya kurasa surga kini menjadi neraka, pas mau
pulang eh ada orang rame-rame yang nggak aku kenal dari anak kelas
sebelah, tambah hancur deh hidupku, bakalan mati di gebokin deh, bonyok deh, tapi
aku nggak mau kalah sebelum bertarung, meski sudah terkepung aku tetap jantan,
aq berjalan tegap menghampiri seorang yang kelihatannya pemimpin dari kelas
mereka, lalu ku bilang, “kenapa ya? ada yang bisa aku bantu?” GUBRAK! dia
langsung ngeluarin tangannya dari jaket, ne pasti piso neh, gara-gara
kesinggung di kantin tadi dan dikira gue to cowoknya si penyihir, “kenalin nama
gue Edo, pacar lo cantik banget, hehehhe, pakai ilmu apa loe? Hehehe” / “hehehe”
aku juga ikut ketawa, “nggak Do, nggak pakai apa-apa, sumpah!” (dalam hati dia
bukan pacar gua) tapi tiba-tiba aja mata Edo langsung menajam, menatap mataku,
seakan mau mukul geto, dengan sigap dia bilang, “itu cewek lo ya? Hehehehehe” /
“hehehe, juga bukan Do, itu teman aku” brukakkk!! Edo langsung mukul punggungku,
“serius loe? Wah… ntar kenalin ya….” / “I…iii…iya, bisa diatur tuh Do” ku
bilang sambil tersenyum, heh akhirnya tuh nenek sihir ketemu sama ular hahahahaha dalam hatiku.
Kebahagiaan
akhirnya dating, aku berharap di rumah bakal makan siang, main game, dan tidur, ah dunia nikmatnya,
tapi pas aku masuk rumah, aroma itu tak asing di hidungku, ah nenek sihir kata
hatiku! ternyata mang bener! “Eh yi” kata mamaku “punya teman jauh kok nggak
bilang-bilang, kasian kan dia disini belum punya teman akrab, belum kenal
lingkungan sini, kenapa nggak diajak main ke rumah, ne anak baik banget yi,
beda banget sama kamu!” aduhhhh……! rupanya penderitaanku masih berlanjut sampai
ke rumah. Hiksssssssssssssssss.
bersambung, by NE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar