Selasa, 25 Desember 2012

Chapter #1 Part III



~Di antara monster~
Nasir!
Yang dipanggil terkejut, wajahnya memutih, ada malaikat maut yang memanggil namanya! “Bawa penghapus itu kesini” kata Bu Mance kemudian. Beberapa siswa terlihat kembali cekikikan, Nasir menoleh sejenak ke arah suara itu, dua orang gadis, dan salah satunya menatap tajam dengan tawa sinis. Mata mereka bertemu dan Nasir melihat kilat yang menyambar dirinya. CETARR…! Makhluk ini bahkan bisa membunuhku walau hanya dengan menatapku batin Nasir. Cepat-cepat dipalingkannya wajahnya, kelas ini benar-benar mengerikan, banyak monster yang tinggal di dalamnya.
Nasir melangkah dengan gontai lalu menyerahkan penghapus di tangannya, tak disangka ternyata Bu Mance malah tertawa, dan tawanya sumbang. Nasir mengambil kesimpulan dengan cepat, dalam hal tertawa rupanya Bu Mance tidak berbakat. Lalu mengapa beliau harus tertawa? Monster yang satu ini sangat mengerikan pikirnya.
Ibu rasa kamu sebaiknya mencuci muka, sekarang!” itu bukan saran, tapi sebuah perintah!
Apa…?? Jadi itu yang membuat beliau tertawa? Nasir melongo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. Benar saja, wajah bodohnya kini menjadi santapan yang sangat dinikmati dalam ketegangan. Semua tatapan siswa tertuju kepadanya, dan ekspresi mereka sama! Seorang siswa yang duduk di pojok kanan kelas malah tertawa dengan keras, dia merasa benar-benar terhibur oleh pertunjukan wajah belepotan Nasir, sungguh memalukan.
Permisi Bu” Nasir bergegas keluar kelas, pengalaman tahun pertama yang sangat memalukan.
Rizal……………….!!” Suara petir kembali menggelegar, “Lakukan lagi yang seperti tadi dan Ibu yakin Bara akan punya teman untuk bersenang-senang di luar sana!” kata Bu Mance sambil menunjuk Bara yang sedang berenang dalam terik mentari di depan kelas. Rizal langsung merubah mimik wajahnya, lalu berpura-pura konsentrasi penuh dengan kertas di depannya.
Nasir mencuci muka sambil meratapi nasipnya, setengah jam lagi waktu ujian berakhir, bahkan dia belum menyelesaikan menjawab setengahnya, aku harus bergegas batin Nasir lalu berlari menuju kelasnya. Bara berdiri dengan santai, namun wajahnya terlihat tegang dengan mata tertutup, tampaknya sedang berpikir keras.
Permisi Bu” kata Nasir sambil berjalan menuju mejanya, dia hanya bisa menatap lantai, kejadian barusan sangat menodai kehormatannya.
BRUAKAKAKAKAKAK, ada Zorro dalam kelas…!! BRUAKAKAKAKAKAK!!
Spontan seisi kelas tertawa. Nasir tersentak, pasti yang dimaksud Zorro itu adalah dirinya! Otaknya berpikir dengan cepat, Zorro, seorang tokoh manga dalam One Piece, rambut hijau, anting-anting, tiga pedang, lalu kenapa mereka tertawa?
Zorro.
Otaknya kini dipaksa berpikir lebih cepat lagi, dan…
Astaga! Pahlawan berkuda, topeng, KUMIS!!.
Diam semuanya…………..!! Rizal…………….!! KELUAR………..!!” teriak Bu Mance, wajahnya merah padam. Kelas berubah menjadi kuburan. Mereka telah membangunkan monster yang sedang tidur.
Permisi Bu” seru Nasir tergagap membalikkan langkahnya kembali keluar kelas. Ibu Mance hanya bisa menghela nafas.
Aarrgghh…… Nasir berlari dengan putus asa, sungguh menyedihkan. Dia kembali merenungi nasipnya saat mencuci ‘kumisnya’, tapi kali ini lebih dari merenungi, meratapi. Akhirnya ratapannya berakhir dengan suatu kesimpulan, tidak hanya wanita yang membutuhkan cermin!!
Nasir melangkah dengan gontai, sebenarnya dia enggan masuk lagi ke dalam neraka itu, tidak sanggup menahan siksaan malu. Sekarang di depan kelas ada dua makhluk yang berdiri menikmati guyuran sinar matahari. Bara, dan seorang pemuda ceking, Rizal, Nasir tidak begitu mengenalnya. Namun ekspresi wajahnya sangat kontras dibandingkan Bara, tampaknya Rizal sangat menikmati ini, tidak ada penyesalan di matanya. Calon monster berikutnya gumam Nasir dalam hati.
Permisi Bu” kata Nasir lirih mengucapkan kalimat itu untuk yang kesekian kalinya. Masih ada 20 menit untuk mengerjakan ujiannya. Benar-benar hening sekarang. Bahkan suara kedipan mata pun sepertinya akan kedengaran. Beberapa menit kemudian terdengar suara orang bercakap-cakap, Bara dan Rizal. Tampaknya mereka sudah akrab sekarang. Percakapan seorang monster dan seekor calon monster, itulah yang terlintas di benak Nasir.
Satu-persatu siswa mengumpulkan lembar jawaban mereka, waktu terasa berjalan sangat cepat. Nasir berjuang keras sampai terengah-engah menuliskan setiap baris jawaban dari pertanyaan essay yang terakhir. “Tara…!!” gumamnya dalam hati, akhirnya selesai tepat waktu. Diangkatnya dagunya, Rose baru saja mengumpulkan lembar jawabannya dan sedang menuju kembali ke mejanya. Dia sangat cantik batin Nasir, dadanya bergemuruh. Tiba-tiba Rose menatapnya, cepat-cepat Nasir menunduk sambil mengemasi alat tulisnya, ini buruk, sialan, mengapa monster ini begitu cantik? Tanya Nasir dalam hati lalu berdiri sambil menggelengkan kepalanya.

To Be Continue to Chapter #1 Part IV
By verGO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact

https://www.facebook.com/tuhuk.maarit

Flickr Photostream

Our Office

Wherever is somewhere at anywhere but not in everywhere

— Links

Popular Posts

Followers

Search