~Di antara monster~
“Nasir!”
Yang dipanggil terkejut, wajahnya memutih, ada
malaikat maut yang memanggil namanya! “Bawa
penghapus itu kesini” kata Bu Mance kemudian. Beberapa siswa terlihat
kembali cekikikan, Nasir menoleh sejenak ke arah suara itu, dua orang gadis,
dan salah satunya menatap tajam dengan tawa sinis. Mata mereka bertemu dan
Nasir melihat kilat yang menyambar dirinya. CETARR…! Makhluk ini bahkan bisa
membunuhku walau hanya dengan menatapku batin Nasir. Cepat-cepat dipalingkannya
wajahnya, kelas ini benar-benar mengerikan, banyak monster yang tinggal di
dalamnya.
Nasir melangkah dengan gontai lalu
menyerahkan penghapus di tangannya, tak disangka ternyata Bu Mance malah
tertawa, dan tawanya sumbang. Nasir mengambil kesimpulan dengan cepat, dalam
hal tertawa rupanya Bu Mance tidak berbakat. Lalu mengapa beliau harus tertawa?
Monster yang satu ini sangat mengerikan pikirnya.
“Ibu
rasa kamu sebaiknya mencuci muka, sekarang!” itu bukan saran, tapi sebuah
perintah!
Apa…?? Jadi itu yang membuat beliau tertawa? Nasir melongo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. Benar saja, wajah bodohnya kini menjadi santapan yang sangat dinikmati dalam ketegangan. Semua tatapan siswa tertuju kepadanya, dan ekspresi mereka sama! Seorang siswa yang duduk di pojok kanan kelas malah tertawa dengan keras, dia merasa benar-benar terhibur oleh pertunjukan wajah belepotan Nasir, sungguh memalukan.
Apa…?? Jadi itu yang membuat beliau tertawa? Nasir melongo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. Benar saja, wajah bodohnya kini menjadi santapan yang sangat dinikmati dalam ketegangan. Semua tatapan siswa tertuju kepadanya, dan ekspresi mereka sama! Seorang siswa yang duduk di pojok kanan kelas malah tertawa dengan keras, dia merasa benar-benar terhibur oleh pertunjukan wajah belepotan Nasir, sungguh memalukan.
“Permisi
Bu” Nasir bergegas keluar kelas, pengalaman tahun pertama yang sangat
memalukan.
“Rizal……………….!!”
Suara petir kembali menggelegar, “Lakukan
lagi yang seperti tadi dan Ibu yakin Bara akan punya teman untuk
bersenang-senang di luar sana!” kata Bu Mance sambil menunjuk Bara yang
sedang berenang dalam terik mentari di depan kelas. Rizal langsung merubah
mimik wajahnya, lalu berpura-pura konsentrasi penuh dengan kertas di depannya.
Nasir mencuci muka sambil meratapi nasipnya,
setengah jam lagi waktu ujian berakhir, bahkan dia belum menyelesaikan menjawab
setengahnya, aku harus bergegas batin Nasir lalu berlari menuju kelasnya. Bara
berdiri dengan santai, namun wajahnya terlihat tegang dengan mata tertutup,
tampaknya sedang berpikir keras.
“Permisi
Bu” kata Nasir sambil berjalan menuju mejanya, dia hanya bisa menatap
lantai, kejadian barusan sangat menodai kehormatannya.
“BRUAKAKAKAKAKAK,
ada Zorro dalam kelas…!! BRUAKAKAKAKAKAK!!”
Spontan seisi kelas tertawa. Nasir
tersentak, pasti yang dimaksud Zorro itu adalah dirinya! Otaknya berpikir
dengan cepat, Zorro, seorang tokoh manga dalam One Piece, rambut hijau,
anting-anting, tiga pedang, lalu kenapa mereka tertawa?
Zorro.
Otaknya kini dipaksa berpikir lebih cepat
lagi, dan…
Astaga! Pahlawan berkuda, topeng, KUMIS!!.
“Diam
semuanya…………..!! Rizal…………….!! KELUAR………..!!” teriak Bu Mance, wajahnya
merah padam. Kelas berubah menjadi kuburan. Mereka telah membangunkan monster
yang sedang tidur.
“Permisi
Bu” seru Nasir tergagap membalikkan langkahnya kembali keluar kelas. Ibu
Mance hanya bisa menghela nafas.
Aarrgghh…… Nasir berlari dengan putus asa,
sungguh menyedihkan. Dia kembali merenungi nasipnya saat mencuci ‘kumisnya’,
tapi kali ini lebih dari merenungi, meratapi. Akhirnya ratapannya berakhir
dengan suatu kesimpulan, tidak hanya wanita yang membutuhkan cermin!!
Nasir melangkah dengan gontai, sebenarnya
dia enggan masuk lagi ke dalam neraka itu, tidak sanggup menahan siksaan malu.
Sekarang di depan kelas ada dua makhluk yang berdiri menikmati guyuran sinar
matahari. Bara, dan seorang pemuda ceking, Rizal, Nasir tidak begitu
mengenalnya. Namun ekspresi wajahnya sangat kontras dibandingkan Bara,
tampaknya Rizal sangat menikmati ini, tidak ada penyesalan di matanya. Calon
monster berikutnya gumam Nasir dalam hati.
“Permisi
Bu” kata Nasir lirih mengucapkan kalimat itu untuk yang kesekian kalinya.
Masih ada 20 menit untuk mengerjakan ujiannya. Benar-benar hening sekarang.
Bahkan suara kedipan mata pun sepertinya akan kedengaran. Beberapa menit
kemudian terdengar suara orang bercakap-cakap, Bara dan Rizal. Tampaknya mereka
sudah akrab sekarang. Percakapan seorang monster dan seekor calon monster,
itulah yang terlintas di benak Nasir.
Satu-persatu siswa mengumpulkan lembar
jawaban mereka, waktu terasa berjalan sangat cepat. Nasir berjuang keras sampai
terengah-engah menuliskan setiap baris jawaban dari pertanyaan essay yang terakhir. “Tara…!!” gumamnya
dalam hati, akhirnya selesai tepat waktu. Diangkatnya dagunya, Rose baru saja
mengumpulkan lembar jawabannya dan sedang menuju kembali ke mejanya. Dia sangat cantik batin Nasir, dadanya bergemuruh. Tiba-tiba Rose menatapnya,
cepat-cepat Nasir menunduk sambil mengemasi alat tulisnya, ini buruk, sialan,
mengapa monster ini begitu cantik? Tanya Nasir dalam hati lalu berdiri sambil
menggelengkan kepalanya.
To Be Continue to Chapter #1 Part IV
By verGO
To Be Continue to Chapter #1 Part IV
By verGO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar