Part I
Ayi pacaran?
Hemmmm Pacar…
kata yang sangat tabu di telinggaku, mikirnya aja udah buatku mual, aku lebih
baik pusing mikirin puzzle, atau bertualang dalam dungeon (tempat para petualang di dunia game) dan menghabiskan waktu berjam-jam di muka komputer atau layar
game, nggak ada istilah malam mingguan, yang ku rasakan hanya fantasy dan hayalan menjadi seorang
petualang.
Orang mungkin
berpikir aku yang sudah duduk di bangku SMA ini masih nggak ada pacar, entahlah
orang bilang aku homo, hode, atau apa aku nggak perduli, ku malah kasihan liat
orang pacaran yang ujung-ujungnya pasti nangis lagi, kaya anak kecil yang
permennya diambil, atau minta dot tapi nggak dikasih sama ibunya.
Malam minggu
juga bagiku nggak ambil pusing mau jalan ma siapa, cukup ke net nongkrong, kalo
lagi suntuk OL di rumah sendiri, bicara tentang game baru dan petualangan baru,
nggak sekilas pun terlintas tentang cewek, tapi semua kebahagiaanku itu sirna
seketika, ketika aku berjumpa orang ini, seakan-akan dia yang mengambil hidupku,
aku dijerat di leher dan dibawanya sekehendak hatinya, mang aku kebo apa? kalo
mau ngajak berantem sih ok aja, tapi aku cowok yang nggak bakalan mukul cewek,
itu karena aku tau dia karate dan 3 (sabuk hitam tertinggi) sedangkan aku mukul
semut aja nggak pernah hikss.
Ceritanya
begini sewaktu pulang sekolah lagi suntuk-suntuknya karena pusing nggak dapat
mecahin jalan keluar pas aku lagi main game, ku coba ke Gramedia nyari walktrough (paduan para gamer /majalah
atau buku) ku lihat pas banget ada game yang nggak bisa ku pecahin tu di
majalah, hem, karena uang nggak ada tapi penasaran pengen tau isinya akhirnya
ku putuskan, bukan mau nyolong tapi hanya merobek bungkusnya tuh majalah tuk
dibaca. Aku bermaksud melakukannya di dalam WC buat di baca, saking gugupnya
aku asal dorong pintu WC, anjrittt……….! ada cewek di dalamnya lagi ngangkang,
sebelum dia sempat berteriak tanpa pikir panjang aku lari dari tuh Gramedia.
Gedubrak! belum sampe pintu gerbang Pak Satpam dah nangkap aku, matilah aku,
dalam hidupku inilah kiamat sugro,
aku nggak pernah terlibat hal berbau kriminal sebelumnya. Al-hasil udah ku
jelasin tetap aja aku disalahkan, dan lebih parahnya lagi ternyata tuh cewek
manggil keluarganya, dan aku baru tau ternyata keluarganya dari kalangan preman
yang melakukan bisinis legal (Kalo di Jepang terkenal dengan Yakuza, yang ini
namanya belum terkenal, makanya aku belum tahunya nama gengnya, ckckck) dan
rencananya aku bakal di gebukin nih nanti di luar Gramedia. Hiks, nasib.
Dengan muka
sangat memelas, aku memohon sama tuh cewek, “tolong bilang sama keluargamu,
maafkan aku, kamu tau kan aku nggak sengaja, nggak mngkin aku sengaja ngintip
ato mau nyabulin kamu”, dengan mata yang menyala dia berkata, “kamu tau nggak,
nggak pernah seorang pria pun mnyentuhku, apalagi melihat aku di saat seperti
itu! kamu harus tanggung jawab!” ku bilang, “apa pun akan kulakukan tapi tolong
gimana caranya agar ada jalan keluarnya dan kita damai aja”
“Enak aja minta
damai” katanya, “ok ku berikan kamu jalan keluar tapi dengan syarat” katanya,
hem mendengar sedikit harapan aku pun langsung mengangguk angguk “apa? katakan
aja!” dia bilang, “kamu harus selalu ada di saat aku butuhkan, kalo nggak,
semua orang bakal mengenal kamu sebagai tukang cabul dan keluargaku bakal bikin
asinan dari daging kamu!” hiksss aku merasa bagaikan Sarimin yang bisa dibawa
kesana kemari, tapi daripada milih jadi daging goreng baiklah akan ku lakukan.
“Ok aku mau
tapi dengan syarat, ini hanya dilakukan selama satu bulan” kataku, “enak aja”
katanya, “nggak bisa! aku akan beri keringanan, aku berikan waktu hukuman
selama satu semester katanya, hah?! aku bakal jadi sarimin selama enam bulan,
“sini nope kamu!” katanya, “ntar ku hubungi”.
3 hari berlalu
ternyata gadis itu nggak ada menghubungi, ternyata hanya gertakan saja rupanya
dan mungkin dia berbaik hati dan dah ngelupain segalanya, ah malam ini malam
minggu, hal yang sangat menyenangkan di net dan bilang dengan bangga aku dah
namatin tuh game baru yang susah banget sama teman-teman, baru mau keluar rumah
ternyata ‘tring-tring’ HP bunyi, siapa neh no baru, pas ku angkat, langsung
seperti mendengar suara Dewi Kehancuran di telinggaku, “hey cabul! sekarang
datang ke Café Duo katanya, kalo
dalam 10 menit nggak ada, kamu babak belur! Hah?? ‘tut tut’ panggilannya
diputus.
Bersambung, By NE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar