Senin, 24 Desember 2012

Chapter #1 Part II



~Monster lainnya~
Kurang lebih setahun sebelumnya 
Kelas benar-benar hening, hanya terdengar suara-suara goretan pulpen di kertas, namun semenit kemudian beberapa siswa mengeluh pelan. Seorang cowok berambut botak terdengar sayup-sayup bergumam, matanya tertutup, suaranya terdengar seperti dukun membaca mantra dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti, keringat menetes dari keningnya, gumaman itu semakin lama semakin nyaring, malah terdengar mirip lenguhan kerbau, Nasir menaikkan alisnya karena benar-benar merasa terganggu, menjengkelkan! keluhnya dalam hati. Diremasnya pulpen di tangannya sambil memaki dalam hati, Bara di depannya masih khusuk dengan mantranya. Seseorang harus menghentikan ini! namun yang bisa dilakukan Nasir hanyalah meremas pulpen, meremas Bara adalah benar-benar seperti meremas bara! Telapak tanganmu akan menjadi barbeque. Berlebihan memang, tapi hanya dari melihat postur tubuhnya orang-orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah siswa kelas satu SMA. Nasir hanya setinggi bahunya, dan itu membuatnya tak berdaya.
Tapi siapa sangka, seseorang yang lebih sadis dan menyeramkan juga menyadari hal tersebut, dan tampaknya akan menjelma menjadi malaikat penolongnya ataukah sang pembawa bencana? Pertanyaan itu terjawab melalui sebuah penghapus papan tulis yang melayang di ruangan kelas. Dalam sepersekian detik Nasir melihat adegan itu sebagai slow motion, sebuah tembakan akurat dari Dra. Mance L. Tobing, M.Pd, seorang pembunuh berdarah dingin yang telah menewaskan ratusan siswa-siswi SMA Negeri 13 Kotabaru, dan jika berbicara masalah, maka ini adalah masalah besar jika berurusan dengan beliau, dan jika berbicara mengenai keras kepala, maka siapapun tahu kalau kepala beliau BENAR-BENAR KERAS. Lebih keras daripada arak Bali, begitu komentar Rizal. Dan jika berbicara mengenai tewasnya ratusan siswa di tangan sang Killer, maka perlu kalian ketahui, bahwa kalimat itu bukan metafora ataupun hiperbola, semua korban-korban beliau benar-benar mati, MATI KUTU!
Dalam slow-motion versi Nasir, perlahan-lahan penghapus tersebut mendekati wajah Bara. Nasir tersenyum lebar lalu memejamkan mata membayangkan apa yang akan terjadi sambil berteriak “TARA….” tanpa suara.
HUWAAAA…………………..!!!?
Teriakan Bara. Dan menyusul ‘Huwa……’ yang kedua, bukan teriakan, tapi jeritan Nasir, namun suara jeritan itu tenggelam dalam penghapus papan tulis yang mengganjal di mulut Nasir. Akurat.
Kelas menjadi menjadi gaduh sejenak, namun puluhan kepala menyadari betapa kejamnya sang Mance dan akhirnya mereka memutuskan untuk diam dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa, hanya terdengar suara cekikikan dan beberapa anak meremas perutnya karena menahan tawa. Hening.
“Bara………………!” Petir menggelegar mengiringi suara Bu Mance, “Bawa mejamu keluar!”
“Apa…?! Saya tidak melakukan apa-apa!” Bara berdiri dan matanya menentang tajam ke arah Bu Mance.
“Mengeluarkan suara apalagi berteriak seperti itu di saat ujian merupakan sebuah pelanggaran, dan setiap pelanggaran harus dipertanggungjawabkan!” sahut Bu Mance tegas, “Lagipula kau tidak punya hak menentang keputusan gurumu, anak baru” sambung Bu Mance
“Sialan, dasar nenek sihir” gumam Bara pelan.
“Aku sudah selesai, jadi aku tidak perlu mengerjakan tugas ini di luar kelas” kata Bara berapi-api sambil menatap Bu Mance.
“Bagus! Kumpulkan dan berdiri di luar selama sisa jam ujian!” keputusan Bu Mance tidak mungkin bisa ditawar lagi, dengan berat hati Bara berjalan ke depan.
“Aku bersumpah, kau akan membayarnya” desis Bara. Nasir tersentak, bulu kuduknya merinding, manusia ini mengerikan, tidak, dia bukan manusia! Dia adalah salah satu monster lainnya!

To Be Continue To Chapter #1 Part III
By verGO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact

https://www.facebook.com/tuhuk.maarit

Flickr Photostream

Our Office

Wherever is somewhere at anywhere but not in everywhere

— Links

Popular Posts

Followers

Search