~Monster lainnya~
Kurang lebih setahun sebelumnya
Kelas benar-benar hening, hanya terdengar
suara-suara goretan pulpen di kertas, namun semenit kemudian beberapa siswa
mengeluh pelan. Seorang cowok berambut botak terdengar sayup-sayup bergumam,
matanya tertutup, suaranya terdengar seperti dukun membaca mantra dengan bahasa
yang tidak dapat dimengerti, keringat menetes dari keningnya, gumaman itu
semakin lama semakin nyaring, malah terdengar mirip lenguhan kerbau, Nasir
menaikkan alisnya karena benar-benar merasa terganggu, menjengkelkan! keluhnya
dalam hati. Diremasnya pulpen di tangannya sambil memaki dalam hati, Bara di
depannya masih khusuk dengan mantranya. Seseorang harus menghentikan ini! namun
yang bisa dilakukan Nasir hanyalah meremas pulpen, meremas Bara adalah
benar-benar seperti meremas bara! Telapak tanganmu akan menjadi barbeque. Berlebihan memang, tapi hanya
dari melihat postur tubuhnya orang-orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah
siswa kelas satu SMA. Nasir hanya setinggi bahunya, dan itu membuatnya tak berdaya.
Tapi siapa sangka, seseorang yang lebih
sadis dan menyeramkan juga menyadari hal tersebut, dan tampaknya akan menjelma
menjadi malaikat penolongnya ataukah sang pembawa bencana? Pertanyaan itu
terjawab melalui sebuah penghapus papan tulis yang melayang di ruangan kelas.
Dalam sepersekian detik Nasir melihat adegan itu sebagai slow motion, sebuah tembakan akurat dari Dra. Mance L. Tobing, M.Pd,
seorang pembunuh berdarah dingin yang telah menewaskan ratusan siswa-siswi SMA Negeri
13 Kotabaru, dan jika berbicara masalah, maka ini adalah masalah besar jika
berurusan dengan beliau, dan jika berbicara mengenai keras kepala, maka siapapun
tahu kalau kepala beliau BENAR-BENAR
KERAS. Lebih keras daripada arak Bali, begitu komentar Rizal. Dan jika
berbicara mengenai tewasnya ratusan siswa di tangan sang Killer, maka perlu kalian ketahui, bahwa kalimat itu bukan metafora
ataupun hiperbola, semua korban-korban beliau benar-benar mati, MATI KUTU!
Dalam slow-motion
versi Nasir, perlahan-lahan penghapus tersebut mendekati wajah Bara. Nasir
tersenyum lebar lalu memejamkan mata membayangkan apa yang akan terjadi sambil
berteriak “TARA….” tanpa suara.
“HUWAAAA…………………..!!!?”
Teriakan Bara. Dan menyusul ‘Huwa……’ yang
kedua, bukan teriakan, tapi jeritan Nasir, namun suara jeritan itu tenggelam
dalam penghapus papan tulis yang mengganjal di mulut Nasir. Akurat.
Kelas menjadi menjadi gaduh sejenak, namun
puluhan kepala menyadari betapa kejamnya sang Mance dan akhirnya mereka
memutuskan untuk diam dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa, hanya
terdengar suara cekikikan dan beberapa anak meremas perutnya karena menahan
tawa. Hening.
“Bara………………!” Petir menggelegar mengiringi suara
Bu Mance, “Bawa mejamu keluar!”
“Apa…?! Saya tidak melakukan apa-apa!” Bara
berdiri dan matanya menentang tajam ke arah Bu Mance.
“Mengeluarkan suara apalagi berteriak seperti
itu di saat ujian merupakan sebuah pelanggaran, dan setiap pelanggaran harus
dipertanggungjawabkan!” sahut Bu Mance tegas, “Lagipula kau tidak punya hak
menentang keputusan gurumu, anak baru” sambung Bu Mance
“Sialan, dasar nenek sihir” gumam Bara
pelan.
“Aku sudah selesai, jadi aku tidak perlu
mengerjakan tugas ini di luar kelas” kata Bara berapi-api sambil menatap Bu
Mance.
“Bagus! Kumpulkan dan berdiri di luar selama
sisa jam ujian!” keputusan Bu Mance tidak mungkin bisa ditawar lagi, dengan
berat hati Bara berjalan ke depan.
“Aku bersumpah, kau
akan membayarnya” desis Bara. Nasir tersentak, bulu kuduknya merinding, manusia
ini mengerikan, tidak, dia bukan manusia! Dia adalah salah satu monster
lainnya!To Be Continue To Chapter #1 Part III
By verGO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar