Ada
kepulan, berderit-derit mengalahkan bising ranjangku yang kehabisan minyak.
Jemarinya celingukan mencari asbak. Taruh saja di sana.
Lalu
foto-foto itu berayun minta dicium. Betina yang membuatku amnesia. Kenapa lagi
setiap malam?
Kereta
api jatuh di belukar, kereta kosong: hanya apinya yang membakar. Jika saja api
itu mengeringkan luka.
Lalu
kalender melompat jauh. Jauh. Jauh.
Betina
telah lama jadi sipir penjara: tatapan bengis.
Ampuni
aku, ampuni aku. Betina tak bergeming.
Kepulan
di ranjangku tak mau surut, masih duduk manis merayu, bibirnya basah dalam
remang. Lampuku tak sanggup menyala lagi sejak lama, aku tahu bibirnya basah.
Aku
menunggu kereta.
Satu domba, dua domba,
tiga domba.
Kepulan
di ranjangku mulai meyanyi lagu rindu. Merayu.
Satu nina, dua nina,
tiga nina.
Ku
raih panci lalu membantingnya.
Ampuni
aku, ampuni aku.
Satu nina, dua nina,
tiga nina.
Betina
tak bergeming…
…Ampuni
aku, ampuni aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar