Kamis, 20 Juni 2013

Insomnina



Ada kepulan, berderit-derit mengalahkan bising ranjangku yang kehabisan minyak. Jemarinya celingukan mencari asbak. Taruh saja di sana.
Lalu foto-foto itu berayun minta dicium. Betina yang membuatku amnesia. Kenapa lagi setiap malam?
Kereta api jatuh di belukar, kereta kosong: hanya apinya yang membakar. Jika saja api itu mengeringkan luka.
Lalu kalender melompat jauh. Jauh. Jauh.
Betina telah lama jadi sipir penjara: tatapan bengis.
Ampuni aku, ampuni aku. Betina tak bergeming.
Kepulan di ranjangku tak mau surut, masih duduk manis merayu, bibirnya basah dalam remang. Lampuku tak sanggup menyala lagi sejak lama, aku tahu bibirnya basah.
Aku menunggu kereta.
Satu domba, dua domba, tiga domba.
Kepulan di ranjangku mulai meyanyi lagu rindu. Merayu.
Satu nina, dua nina, tiga nina.
Ku raih panci lalu membantingnya.
Ampuni aku, ampuni aku.
Satu nina, dua nina, tiga nina.
Betina tak bergeming…
…Ampuni aku, ampuni aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact

https://www.facebook.com/tuhuk.maarit

Flickr Photostream

Our Office

Wherever is somewhere at anywhere but not in everywhere

— Links

Popular Posts

Followers

Search